Penyakit Demokrasi
Oleh drh. Chaidir
SIAPAPUN yang waras pasti mengatakan demokrasi kita sedang sakit. Penyakit sistemik yang paling menonjol adalah gonta-ganti aturan main. Undang-undang tentang parpol, tentang penyelenggara pemilu, dan tentang pemilu itu sendiri, belum lagi berusia lima tahun telah diganti.
Yang menyangkut nilai-nilai demokrasi, lebih parah lagi. Etika politik misalnya, dikesampingkan. Kejujuran dan sportivitas dibiarkan hanyut, keadilan dipermainkan. Hal-hal yang bersifat teknis, minta ampun. DPT disusun, DPT dimainkan. Kartu undangan pemilih dikacaukan banyak yang beralamat palsu (bikin Ayu Tinting bingung). Surat suara digandakan. Sebentar coblos sebentar contreng, coblos lagi. Rekapitulasi harus dipelototi saksi 3×24 jam, itu pun masih bisa kecolongan. Dan seterusnya. Maka jangan heran bila penguasa dan politisi yang terpilih, meleset dari harapan.
Farid Zakaria, editor senior Newsweek International, dalam bukunya “The Future of Freedom” (1997) edisi Bahasa Indonesia (Masa Depan Kebebasan, 2004) menemukan fakta menarik dalam penelitiannya di Afrika, bahwa pemilihan umum di banyak negara di benua hitam itu, menghasilkan pemerintah yang tidak efisien bahkan korup.
Hal itu agaknya sejalan dengan pandangan pakar politik ternama, Samuel P. Huntington, yang mengatakan bahwa pemilihan umum, keterbukaan, bebas dan jujur merupakan inti dari demokrasi, yang masing-masng saling terkait dan tak terpisahkan. Namun Pemerintah yang dihasilkan dari pemilihan umum bisa jadi tidak efisien, korup, berpandangan sempit, tidak bertanggung jawab, didominasi oleh kepentingan-kepentingan khusus dan tidak mampu menerapkan kebijakan yang sesuai dengan kepentingan rakyat.
Fareed Zakaria menyimpulkan, demokrasi bergerak pada arah yang berlawanan. Maksudnya, rakyat diberi kesempatan memilih pemerintahnya sendiri, tetapi kemudian karena pemerintah yang mereka pilih itu ternyata korup, otoriter, oligarki, lupa daratan, maka rakyat kemudian tidak lagi menghendakinya. Paradoks demokrasi ini disebut oleh para pakar sebagai penyakit-penyakit demokrasi. Dan penyembuhan penyakit-penyakit demokrasi itu menurut pendapat filsuf Amerika yang berpengaruh, John Dewey (1927), sebagaimana dielaborasi oleh Fareed Zakaria, haruslah dengan memberi dosis demokrasi yang lebih banyak lagi.
Demokrasi yang lebih banyak lagi adalah dengan cara memperluas hak-hak rakyat, menghilangkan pemilihan-pemilihan yang tidak langsung, mengurangi kekuasaan kelompok-kelompok elit, dan memberdayakan lebih banyak orang dengan lebih banyak cara.
Fareed Zakaria memang tidak mengambil sampel pemilu dan demokratisasi di Indonesia. Penelitiannya di Afrika. Tetapi pendapat Samuel P. Huntington dan postulat John Dewey yang dirujuk, rasanya sangat relevan dengan demokratisasi yang berlangsung di Indonesia. Demokrasi dengan sistem pemilihan langsung, sebenarnya sudah berada pada lintasan yang benar walaupun banyak kelemahannya. Sistem pemilihan langsung itu pun sudah diperjuangkan dengan darah dan air mata oleh mahasiswa kita dalam gerakan reformasi. Karena dengan pemilihan langsung itulah demokrasi politik ditegakkan dengan memberi peluang kepada rakyat memilih secara langsung memilih pemimpinnya. Harusnya, aturan mainnya saja yang dibuat jelas dan tegas sehingga mengurangi ekses. Rakyat pemilih makin lama pasti makin cerdas. Pasti semakin banyak yang bergeser ke wilayah idealisme dan harga diri, dengan mengatakan uang bukan segalanya dan bahaya konflik horizontal itu terlalu dibesar-besarkan, sebuah gejala awal paranoid.
Jadi, mengganti sistem pemilihan gubernur dari langsung menjadi sistem tidak langsung (melalui DPRD Provinsi) jelas bukan terapi yang tepat untuk bangsa kita yang sedang mengidap penyakit demokrasi. Sengsai…
Tentang Penulis : http://drh.chaidir.net







on Februari 22nd, 2012 at 21:34
jaka sembung bawa obeng, blm waktunya pemilu bung! krn siapapun yg akan naik tahta akan segera tergiur oleh uang dari kelompok ttt yg tentunya besar dan hampir mulus menguasai kedua pilot dan co-pilot negara ini tanpa diketahui oleh rakyatnya, kelompok ini tentunya ingin memuluskan, memperlancar, mengabadikan kerajaan bisnisnya tetap berdiri tegak sepanjang masa hingga akhir jaman — anda bisa bayangkan negara ini dikendalikan oleh org2 yg rakus uang tiada puasnya tdk peduli lg sumbernya darimana halal atau haram yg penting demi menyelamatkan muka negara, siapa yg diselamatkan?org yg rakus uang tadi! bukan org2 yg anda hina sok suci tdk suka uang, anda mungkin bukan paranoid bila mendptkan bayaran utk membuat tulisan ini
[Reply]
on Februari 22nd, 2012 at 23:23
ujungng”nya yang muncul adalh demokrasi semu …
[Reply]
on Februari 23rd, 2012 at 04:04
Seringkali ilmuan indonesia melihat demokrasi di indonesia, seolah berharap seperti yang tampak di Negara-Negara lain atau seperti apa yg dipikirkan oleh para pemikir Barat. lalu mempersoalkan akibat buruk proses maupun hasil dari suatu demokrasi. Anehnya lagi euforia demokrasi dalam masyarakat disebut sebagai penyakit demokrasi oleh dr. Chaidar. Padahal nilai yang diemban demokrasi selaku misinya adalah luhur. Kembali pada model demokrasi, sesungguhnya, Indonesia menzolimi diri sendiri. Sudah model demokrasi yang diberikan oleh para pendiri republik ini, namun kenyataannya Indonesia memakai demokrasi ala lain. Karena tidak cocok dengan bangunan tradisi pun sifat manusia Indonesia, akibatnya demoralisasi dalam demokrasi pun seringkali menjadi pemandangan kita setiap ada proses-proses politik, baik level national maupun level lokal. Hal ini terjadi akibat ketidakcocokan antara cara-cara yg dicangkok dari luar dengan nilai-nilai yang telah lama terpelihara dalam masyarakat Indonesia, yakni gotong royong dan kekeluargaan. Ini kemudian hampir hilang bila tidak ada lagi nilai pun perangkat-perangkat tradisi yang menjaganya sebagai sebuah warisan dari para leluhur. Pendek kata saya berpendapat bahwa demokrasi di Indonesia adalah demokrasi omong-kosong bila tidak dikembalikan pada tradisi dan sifat orang Indonesia. Adalah terus-menerus memakai demokrasi versi luar, maka yang terjadi adalah omong-kosong karena terbukanya ruang untuk terjadinya transaksional, mulai dari level individu, pemimpin kelompok atau sang patron, hingga pada sistem berikut perangkat pendukung lainnya termasuk para operator-operator politik, para konspirator dll.
[Reply]
on Februari 23rd, 2012 at 04:35
Indonesia ini adalah Negara kepulauan (ribuan pulau), Negara dimana banyak etnik manusia berikut bahasa-bahasa mereka, ada di negeri ini; alamnya yang subur tapi SDM-nya masih jauh tertinggal; masih banyak manusia yang buta huruf dan berpendidikan rendah. antara lain hal-hal itulah mustinya dikerjakan oleh demokrasi. Bukan yang tampak menonjol dewasa ini, dimana demokrasi terus-menerus didorong ke arus perebutan kekuasaan semata. Apa akibatnya adalah maka muncullah para Machiavellian olehkarena demokrasi terlalu menitik beratkan pada perebutan kekuasaan semata. Padahal tujuan demokrasi adalah terimplementasinya keadilan kedalam berbagai dimensi kehidupan manusia. karena itu, demokrasi harusnya meretas kesenjangan yang terjadi ditengah masyarakat, khususnya terkait dengan persoalan ekonomi rakyat yang semakin terpuruk, sedang disebagian orang hidup bermewah-mewah. Kesenjangan yang terus menerus berjarak, hingga menimbulkan kesadaran palsu dan secara perlahan lama-kelamaan timbul konflik dalam masyarakat bahkan hingga pada kerusuhan. Hemat saya, soal ekonomi dan juga nilai tradisi dalam masyarakat yang perlu menjadi perhatian pokok bagi para pendukung demokrasi di Indonesia, guna mengakhiri sandiwara para elit politik pun para kepala pemerintahan di negeri ini di panggung Negara Indonesia yang berakibat pada dikorbankannya kehidupan rakyat, padahal mustinya itulah yang menjadi prioritas utama, bukanlah sandiwara politik.
[Reply]
on Februari 23rd, 2012 at 07:56
kualitas pemimpin yang terpilih mencerminkan kualitas rakyat yang dipimpinnya. jika pemimpinnya mulia, maka rakyatnya juga mulia, begitu pula sebaliknya, jika pemimpinnya bobrok, maka itu mencerminkan rakyatnya yang juga bobrok. bukti kalau rakyat Indonesia bobrok : perzinaan, pembunuhan, perampokan, tawuran, mabuk, narkoba dimana-mana, dsb.
[Reply]